Taksonomi Pendidikan
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Taksonomi bloom merujuk pada tujuan pembelajaran yang
diharapkan agar dengan adanya taksonomi ini para pendidik dapat
mengetahui secara jelas dan pasti apakah tujuan instruksional pelajaran
bersifat kognitif, afektif atau psikomotor. Taksonomi
berarti klasifikasi berhirarki dari sesuatu atau prinsip yang mendasari
klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian sampai
pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi.
Taksonomi yaitu ilmu tentang
kelompok organisme berdasarkan perbedaan kategori menurut karakter fisiknya.
Pengelompokan atau karakterisasi akan dikelompokan didasarkan kesamaannya yang
biasanya diwariskan kepada keturunannya dari nenek moyangnya.
B.
Rumusan
Masalah
Rumusan
masalahnya adalah:
a.
Apakah pengertian dari
taksonomi dan letak taksonomi dalam dunia pendidikan?
b.
Apa itu taksonomi Bloom?
c.
Apa itu kata kerja operasional
(KKO) dan bagian-bagiannya?
d.
Bagaimana kurikulum baru yang
ditetapkan oleh pemerintahan di tahun 2013 ini?
C.
Tujuan
Pembuatan
makalah ini bertujuan:
a.
Untuk mengetahui apa yang
dimaksud dengan taksonomi dan letak taksonomi dalam dunia pendidikan.
b.
Untuk mengetahui apa itu
taksonomi Bloom.
c.
Untuk mengetahui apa itu kata
kerja operasional (KKO) serta bagian-bagiannya.
d.
Untuk mengetahui bagaimanakah
kurikulum baru yang ditetapkan oleh pemerintahan di tahun 2013 ini.
BAB
II
TAKSONOMI
PENDIDIKAN
A.
Pengertian
Taksonomi dan Letak Taksonomi dalam Dunia Pendidikan
Secara bahasa taksonomi diambil dari bahasa Yunani
yaitu tassein dan nomos. Tassein yang berarti untuk
mengelompokkan dan nomos yang berarti aturan.[1]
Taksonomi dapat pula diartikan secara istilah yaitu, sebagai pengelompokan
suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu. Di mana taksonomi yang
lebih tinggi bersifat lebih umum atau masih luas dan taksonomi yang lebih
rendah bersifat lebih spesifik atau lebih terperinci.
Dalam pendidikan,
taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini,
tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif,
afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi
beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat),
mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling
kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga
tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah.
Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin
S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering pula disebut sebagai "Taksonomi
Bloom".
Pengajran
yang semata-mata merencanakan atas strategi pengetahuan lebih didahulukan tidaklah
banyak menolong dalam menyusun berbagai jenis perilaku dalam kategori
pengetahuan ataupun dalam taraf-taraf yang lebih tinggi.[2] Kepentingan antara kegiatan belajar
mengajar harus berlandaskan tujuan. Kesadaran para guru bahwa tujuan pelajaran
harus dirumuskan sebelum proses belajar mengajar berlangsung. Tujuan tersebut
harus diberitahukan kepada siswa. Jadi, tujuan tersebur bukanlah sesuatu yang
perlu untuk dirahasiakan. Apabila dalm pengajaran tidak disebutkan tujuannya,
maka siswa tidak akan tahu mana pelajaran yang perlu dan yang tidak.
Kepentingan hubungan ini dikemukakan oleh Scriven yang mengemukakan bahwa,
harus ada hubungan erat antara:[3]
1. Tujuan
kurikulum dengan bahan pelajaran
2. Bahan
pelajaran dengan alat-alat evaluasi.
3. Tujuan
kurikulum dengan alat-alat evaluasi.
Tujuan
kurikulum yang dimaksud adalah tujuan yang dapat diukur. Ebel berpendapat
bahwa, jika hasil pendidikan merupakan sesuatu yang penting tetapi tidak dapat
diukur, maka tujuan itu harus diubah. Jika tujuan telah dirumuskan secara
operasional maka hasilnya akan dapat diukur. Suatu tanda bahwa seseorang telah
mencapai tujuannya, akan terlihat pada perubahan tingkah lakunya.[4]
Maksud yang dapat diukur ialah kemampuan, perilaku, sikapyang harus dimiliki
seorang siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam
tingkah lakunya sehingga dapat diamati dan diukur.
Tujuan
pendidikan dapat dirumuskan pada 3 tingkatan yaitu:
·
Pertama,
tujuan umum pendidikan. Tujuan ini
menentukan perlu dan tidaknya sesuatu program diadakan.
·
Kedua,
tujuan yang didasarkan tingkah laku. Ada
3 macam tingkah laku yang dikenal umum, yaitu, kognitif, afektif, dan
psikomotor. Berhasilnya pendidikan dalam bentuk tingkah laku, inilah yang
dimaksud dengan taksonomi.
·
Ketiga,
tujuan yang lebih jelas yang dirumuskan
secara operasional.
Beberapa ahli telah mencoba
memberikan cara bagaimana menyebut ketiga tingkatan tujuan ini, yang akhirnya
oleh Viviane De Landsheere disimpulkan bahwa ada 3 tingkat tujuan (termasuk
taksonomi), yaitu:
1. Tujuan
akhir atau tujuan umum pendidikan
2. Taksonomi
3. Tujuan yang operasional.
B.
Taksonomi
Bloom
Benjamin Bloom (February
21, 1913 - September 13, 1999) adalah seorang ahli psikologi pendidikan Amerika yang memberikan sumbangan pemikiran
yang cukup berarti, yaitu mengklasifikasikan tujuan pembelajaran (classification
of educational objectives) dan teori belajar tuntas (the theory of mastery
learning). Dari hasil penelitiannya,
Bloom membangun taksonomi tujuan pembelajaran atau "taxonomy of educational objectives" yang
mengklasifikasikan tujuan pembelajaran yang berbeda-beda.
Bloom dan Krathwohl telah memberikan
banyak inspirasi kepada banyak orang yang melahirkan taksonomi
lain.prinsip-prinsip dasar yang digunakan oleh 2 orang ini ada 4 buah,yaitu:
1.
Prinsip metodologis
Perbedaan-perbedaan
yang besar telah merefleksi kepada cara-cara guru dalam mengajar.
2.
Prinsip Psikologis
Taksonomi
hendaknya konsisten dengan fenomena kejiwaan yang ada sekarang.
3.
Prinsip Logis
Taksonomi
hendaknya dikembangkan secara logis dan konsisten.
4.
Prinsip Tujuan
Tingkatan-tingkatan
tujuan tidak selaras dengan tingkatan-tingkatan nilai-nilai.tiap-tiap jenis
tujuan pendidikan hendaknya menggambarkan corak yang netral.
Konsep taksonomi Bloom mengklasifikasikan
tujuan pendidikan dalam tiga ranah, yaitu:
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang
berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual.
2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi
perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi.
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor)
berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek terampilan.[5]
a.
Cognitive
Domain (Ranah Kognitif)
1. Ingatan (mengenal
dan mengingat kembali)
Dalam pengenalan siswa diminta untuk memilih satu dari
dua atau lebih jawaban.
Contoh:
Hasil dari 23 adalah…
a)
2
b)
6
c)
8
Berbeda
dengan mengenal maka dalam mengingat kembali, siswa diminta untuk mengingat
kembali satu atau lebih fakta-fakta sederhana.
Contoh:
Ciri-ciri
dari segitiga siku-siku adalah…
Mengenal dan
mengungkapkan kembali, pada umumnya dikategorikan menjadi satu jenis yaitu
ingatan. Kategori ini merupakan kategori paling rendah tingkatnya karena tidak
terlalu banyak energi untuk berfikir.
2. Pemahaman
Dengan pemahaman, siswa diminta untuk membuktikan
bahwa ia memahami hubungan yang sederhana di antara fakta-fakta atau konsep.
Contoh:
a).
b).
c).
3. Penerapan
atau aplikasi
Untuk
penerapan atau aplikasi ini siswa dituntut memiliki kemampuan untuk menyeleksi
atau memilih suatu abstrasi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan, gagasan,
cara) secara tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya
secara benar.
Contoh:
Untuk
menyelesaikan hitungan 51 x 40 = n, maka paling tepat kita gunakan.
a. Hukum
asosiatif
b. Hukum
komutatif
c. Hukum
distributif
4. Analisis
Dalam
analisis, siswa diminta untuk menganalisis suatu hubungan atau situasi yang
kompleks atas konsep-konsep dasar.
Contoh:
Siswa
disuruh menerangkan apa sebab pada waktu mendung dan ada angin kencang hujan
tidak segera turun. (logika matematika).
5. Sintesis
Sintesis
merupakan suatu proses yang meminta siswa agar bias menyusun kembali hal-hal
yang spesifik agar dapat mengembangkan struktur baru. Dengan singkat dapat
dikatakan bahwa dengan soal sintesis ini siswa diminta untuk melakukan
generalisasi.
Contoh:
Piramid
Agung di Giza merupakan salah satu bukti pengetahuan orang-orang mesir kuno
tentang geometri. Apakah dalam perencanaan pembangunannya dahulu mereka sudah
memperhitungkan tinggipuncak piramid itu dari lantai dasarnya?
6. Evaluasi
Evaluasi
(evaluation) adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah
kognitif menurut taksonomi bloom.Evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang
untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide,atau
kemampuan mengambil keputusan.
Contoh:
Peserta
didik mampu menilai bahwa matematika itu digunakan bukan hanya pada keperluan
pelajaran matematika saja, tetapi ilmu-ilmu yang lain juga memerlukan ilmu
matematika,seperti pada materi bilangan berpangkat, materi bilangan berpangkat ini
bs juga digunakan pada pelajaran kimia (tetapan avogadro) dan fisika (muatan
elektron).
Struktur Taksonomi Bloom:

b.
Affective
Domain (Ranah Afektif)
1. Penerimaan (receiving/attending)
Penerimaan
adalah kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam
pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan
mengarahkannya.
Contoh:
peserta
didik menyadari bahwa disiplin wajib ditegakkan, sifat malas dan tidak
berdisiplin harus disingkirkan jauh-jauh.
2. Penanggapan (responding)
Penanggapan
adalah memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi
persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
Contoh:
peserta
didik berkeinginan untuk mempelajari lebih jauh atau menggali lebih dalam lagi,
ajaran-ajaran islam tentang kedisiplinan.
3. Penilaian (valuing)
Penilaian
adalah memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan
atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan,dirasakan akan membawa
kerugiaan atau penyesalan.
Contoh:
Tumbuhnya
kemauan yang kuat pada diri peserta didik untuk berlaku disiplin, baik
disekolah, di rumah maupun ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
4. Pengorganisasian
(organization)
Pengorganisasian
adalah mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang lebih
universal, yang membawa kepada perbaikan umum.
Contoh:
Peserta
didik mendukung penegakan disiplin nasional yang telah dicanangkan oleh Bapak
Presiden Soeharto pada Peringatan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 1995.
5. Karakterisasi
(characterization)
Karakterisasi
adalah keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang
mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Nilai itu telah tertanam
secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Ini adalah
merupakan tingkatan efektif tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah
benar-benar bijaksana.
Contoh:
Siswa telah memiliki kebulatan sikap
wujudnya peserta didik menjadikan perintah Allah SWT yang tertera dalam
Al-Qur'an surat al-'Ashr sebagai pegangan hidupnya dalam hal yang menyangkut
kedisiplinan, baik kedisiplinan di sekolah, di rumah maupun ditengah-tengah
kehidupan masyarakat.[6]

c.
Psychomotor
Domain (Ranah Psikomotor)
1.
Menirukan (muscular
or motor skills).
Menirukan
merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan
contoh yang diamatinya walaupun belum
mengerti makna atau hakikat dari keterampilan itu.
2.
Memanipulasi
(manipulations).
Memanipulasi merupakan kemampuan dalam melakukan suatu
tindakan seperti yang diajarkan, dalam arti mampu memilih yang diperlukan.
3.
Ketelitian (Precision)
melakukan tugas atau
kegiatan dengan keahlian dan berkualitas tinggi tanpa bantuan atau instruksi,
dapat menunjukkan aktivitas untuk pelajar lain
4.
Artikulasi.
Artikulasi
(Articulation) merupakan suatu tahap dimana seseorang dapat melakukan
suatu keterampilan yang lebih komplek terutama yang berhubungan dengan gerakan
interpretatif.
5.
Pengalamiahan (Naturalisation)
merupakan suatu penampilan tindakan dimana hal-hal yang diajarkan (sebagai
contoh) telah menjadi suatu kebiasaan dan gerakan-gerakan yang ditampilkan
lebih meyakinkan. Contoh kata kerja operasional yang biasa digunakan untuk
mengukur aspek ini diantaranya adalah memutar, memindahkan, menarik, mendorong,
dan sebagainya.

C.
Kata
Kerja Operasional (KKO)
Kata
kerja Operasional adalah kata kerja yang dapat diukur dan digunakan untuk
merancang indikator dari SK dan KD pada Standar Isi, atau juga dapat digunakan
untuk merancang Tujuan Pembelajaran pada silabus dan RPP.
a.
Cognitive
Domain; levels and corresponding action verbs.[7]
1. Pengetahuan (knowledge,
(C1) : mendefiniskan, mengutip, menyebutkan,
menjelaskan, menggambar, membilang, mengidentifikasi, mendaftar, menunjukkan,
memasangkan, menamai, menandai, membaca, menyadari, menghafal, meniru,
mencatat, mengulang, meninjau, memilih, menyatakan, mempelajari, menelusuri,
menulis.
2. Pemahaman
(comprehension), (C2) : memperkirakan, menjelaskan,
mengkategorikan, mencirikan, merinci, membandingkan, menghitung, mengubah,
menguraikan, membedakan, mendiskusikan, mencontohkan, menerangkan,
mengemukakan, mempolakan, memperluas, menyimpulkan, meramalkan, merangkum,
menjabarkan.
3. Penerapan
(application), (C3) : menugaskan, mengurutkan, menerapkan,
menyesuaikan, mengkalkulasi, memodifikasi, mengklasifikasi, menghitung,
membangun, membiasakan, mencegah, menentukan, menggambarkan, menggunakan,
menilai, melatih, menggali, mengemukakan, menyelidiki, mengoperasikan,
mempersoalkan, mengkonsepkan, melaksanakan, meramalkan, memproduksi, memproses,
menyusun, memecahkan, melakukan, memproses, meramalkan.
4. Analisis (analysis),
(C4) : menganalisis, memecahkan, menegaskan, mendeteksi,
mendiagnosis, menyeleksi, merinci, menominasikan, mendiagramkan,
megkorelasikan, merasionalkan, menguji, mencerahkan, menjelajah, membagankan,
menyimpulkan, menemukan, menelaah, memaksimalkan, memerintahkan, mengedit,
mengaitkan, memilih, mengukur, melatih, mentransfer.
5. Sintesis
(synthesis), (C5) : mengatur, menganimasi,
mengumpulkan, mengkategorikan, mengkode, mengombinasikan, menyusun, mengarang,
membangun, menanggulangi, menghubungkan, menciptakan, mengkreasikan,
mengoreksi, merancang, merencanakan, mendikte, meningkatkan, memperjelas,
memfasilitasi, membentuk, merumuskan, menggabungkan, memadukan, membatas,
mereparasi, menampilkan, menyiapkan, memproduksi, merangkum, merekonstruksi.
6. Evaluasi
(Evaluation), (C6) : membandingkan, menyimpulkan,
menilai, mengarahkan, mengkritik, menimbang, memutuskan, memisahkan,
memprediksi, memperjelas, menugaskan, menafsirkan, mempertahankan, memerinci,
mengukur, merangkum, membuktikan, memvalidasi, mengetes, mendukung, memilih,
memproyeksikan.
b.
Affective
Domain; learning levels and corresponding action verbs.
1. Menerima (Receiving):
memilih, mempertanyakan, mengikuti, memberi, enganut, mematuhi.
2. Menanggapi
(Responding) : menjawab, membantu,
mengajukan, mengompromikan, menyenangi, menyambut, mendukung, menyetujui,
menampilkan, melaporkan, memilih, mengatakan, memilah, menolak, menceritakan,
menulis, menghafal, membedakan.
3. Menilai
(Valuing) : melengkapi, menggambarkan, membedakan,
menerangkan, mengikuti, membentuk, mengundang, menggabung, mengusulkan,
membaca, melaporkan, memilih, bekerja, mengambil bagian, mempelajari.
4. Mengelola
(Organization) : mengubah, mengatur,
menggabungkan, membandingkan, melengkapi, mempertahankan, menerangkan,
menggeneralisasikan, mengidentifikasikan, mengintegrasikan, memodifikasikan,
mengorganisir, menyiapkan, menghubungkan, mensitesiskan.
5. Menghayati
(Characterization by value) : menerapkan, mengusulkan,
memperagakan, mempengaruhi, mendengarkan, memodifikasikan, mempertunjukkan,
menanyakan, merevisi, melayani, memecahkan, menggunakan.
c.
Psychomotor
domain, show the actualization of words that can be observed include:
1. Menirukan (muscular
or motor skills), (P1) : Mempertontonkan gerak,
menunjukkan hasil, melompat, menggerakkan, menampilkan.
2. Memanipulasi
(manipulations), (P2) : mereparasi, menyusun, membersihkan,
menggeser, memindahkan, membentuk.[8]
3. Ketelitian (Precision),
(P3) : mendemonstrasikan,
menunjukkan, melengkapkan, menyempurnakan, mengkalibrasi, mengkontrol,
4. Artikulasi
(P4): mempertajam, membentuk, memadankan,
menggunakan, memulai, menjeniskan, menempel, menseketsa, melonggarkan,
menimbang
5. Pengalamiahan
(Naturalisation), (P5) : mengalihkan,
menggantikan, memutar, mengirim, memindahkan, mendorong, menarik, memproduksi, mencampur,
mengoperasikan, mengemas, membungkus
BAB
III
KESIMPULAN
Taksonomi berasal dari bahasa Yunani
tassein berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi
berarti klasifikasi berhirarki dari sesuatu atau prinsip yang mendasari
klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian sampai
pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema
taksonomi.
Tujuan instruksional khusus (taksonomi)
dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
·
Cognitive Domain (Ranah Kognitif),
yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti
pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
·
Affective Domain (Ranah Afektif)
berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti
minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
·
Psychomotor Domain (Ranah
Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik
seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
Penetapan tujuan, yang merupakan
suatu keharusan dalam perencanaan pengajaran, perlu dirumuskan dengan jelas dan
tegas sehingga tidak membuka peluang untuk penafsiran lain. Penetapan tujuan
pengajaran ibarat penetapan tujuan suatu perjalanan. Jalan yang optimal ke
tujuan tidak dapat dipertimbangkan apabila tujuan itu sendiri belum diketahui.
Setelah ada tujuan, baru dipikirkan jalan optimal (yaitu yang efektif dan
efisien) ke tujuan tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto,
Suharsimi. 2008. “Dasar-dasar Evaluasi
Pendidikan”. Jakarta: Bumi Aksara.
http://danilsetiawan.com/kelemahan-dan-kelebihan-kurikulum-pendidikan-2013/.
Diakses tanggal 12 Maret 2013.
http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi.
Diakses tanggal 12 Maret 2013.
http://www.unm.ac.id/berita/26-kegiatan/422-kurikulum-2013-penyempurnaan-kurikulum-sebelumnya.html.
Diakses tanggal 12 Maret 2013.
Popham, W.
James. 2008. “Teknik Belajar Secara
Sistematis”. Jakarta: Rineka Cipta.
Sadiman, Arief
S. dkk. 2008. “Media Pendidikan:
Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatan”. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Sudijono, Anas. 2008. “Pengantar Evaluasi Pendidikan”. Jakarta
: PT. Raja Grafindo Persada.
[2]
Popham, W. James. 2008. “Teknik Belajar
Secara Sistematis”. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 60.
[3]
Suharsimi Arikunto. 2008. “Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan”. Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 114.
[4] Ibid., hal. 115.
[5] Ibid,. Hal. 117.
[6] Sudijono,
Anas. 2008. “Pengantar Evaluasi Pendidikan”.
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Hal. 55
[7] Suharsimi Arikunto. Op.cit,. hal. 137.
[8] Ibid,. hal 139.
gak asik dari wikipedia
BalasHapusThanks
BalasHapuslanjutkan, izin copas
BalasHapus